Nanti
pada mimpi, tak bisa kita berhenti
biarkan kaki mengejar
tanpa peduli dimana berhenti
kau bertanya, dari mana semangat ini
aku bilang, tunggu
kau akan tahu nanti
sekarang, biar aku simpan kata-kata ini
Velbak, April 2005
Monday, April 04, 2005
Friday, January 28, 2005
Saturday, January 15, 2005
Tuesday, January 11, 2005
Selesai?
sudah,
biar lenyap aku hidup
mungkin sunyi memberi terang
membuang mustahil
juga tak harap selama
apa yang bisa perbuat
cuma diam kembali sepi
tapi ada bunga
sisa musim belum usai
semerbak
ilusi bahagia
kau datang lagi?
duhai, tolol nan abadi
mau kau hapus tanda titik
pada akhir cerita ini
Karet, Januari 2005
sudah,
biar lenyap aku hidup
mungkin sunyi memberi terang
membuang mustahil
juga tak harap selama
apa yang bisa perbuat
cuma diam kembali sepi
tapi ada bunga
sisa musim belum usai
semerbak
ilusi bahagia
kau datang lagi?
duhai, tolol nan abadi
mau kau hapus tanda titik
pada akhir cerita ini
Karet, Januari 2005
Thursday, December 30, 2004
Thursday, December 23, 2004
Dimana Kau
kadang datang prasangka,
sebab beban yang Kau timpakan
pada ujung sunyi,
sering aku menungguMu
juga saat harapan tinggal satu lapis
begitu takut aku Kau pergi
meninggalkanku di padang gersang ini
tak cukupkah seribu puisi rindu
untuk membuatMu peduli
tak cukupkah hina dina ini
sekedar membuat aku ingat lagi
lalu kembali
Karet, Desember 2004
kadang datang prasangka,
sebab beban yang Kau timpakan
pada ujung sunyi,
sering aku menungguMu
juga saat harapan tinggal satu lapis
begitu takut aku Kau pergi
meninggalkanku di padang gersang ini
tak cukupkah seribu puisi rindu
untuk membuatMu peduli
tak cukupkah hina dina ini
sekedar membuat aku ingat lagi
lalu kembali
Karet, Desember 2004
Sunday, October 10, 2004
Monday, September 06, 2004
Friday, September 03, 2004
Sunday, August 15, 2004
Berita
satu kalimat ini, datang dari rasa benci
sebab luang yang tak lagi ada
tercerabut waktu yang menekan
terjemahan ungkapan tanpa makna
dari orang-orang yang seharusnya tak didengarkan
kau menulisnya hingga jauh dari bahagia
bahkan lupa kata indah itu
membuat kata berjarak dari jiwa
sebab terpaksa
tahukah kau,
saat kata tak lagi berasa
kau berhak membangkang
Karet, Agustus 2004
satu kalimat ini, datang dari rasa benci
sebab luang yang tak lagi ada
tercerabut waktu yang menekan
terjemahan ungkapan tanpa makna
dari orang-orang yang seharusnya tak didengarkan
kau menulisnya hingga jauh dari bahagia
bahkan lupa kata indah itu
membuat kata berjarak dari jiwa
sebab terpaksa
tahukah kau,
saat kata tak lagi berasa
kau berhak membangkang
Karet, Agustus 2004
Wednesday, August 11, 2004
27 Juli
layaknya mereka, kami pun berkabung
tidak di jalan, tapi di sebuah kamar
sebuah peringatan
parade umpatan sepenuh hati
terdengar lantang sebatas ruang
ironi musiman
benci, tapi tak mau pergi
sayang, tapi tak kunjung tenang
putus asa berhenti suara
menolak dengan tulisan tak jadi
ini cerita ulang resah tak berkesudahan
tentang gaji, yang tak menghidupi
Velbak, Juli 2004
layaknya mereka, kami pun berkabung
tidak di jalan, tapi di sebuah kamar
sebuah peringatan
parade umpatan sepenuh hati
terdengar lantang sebatas ruang
ironi musiman
benci, tapi tak mau pergi
sayang, tapi tak kunjung tenang
putus asa berhenti suara
menolak dengan tulisan tak jadi
ini cerita ulang resah tak berkesudahan
tentang gaji, yang tak menghidupi
Velbak, Juli 2004
Tak Berhenti
isi kepala
kata-kata yang tak habis ditelan tenggat
cerita yang tak terbatas ruang di koran
sampah:
belati, perempuan, film, dostoyevsky, peluru, buku, cemburu, televisi, tak peduli, benci, tak lagi, iklan, deadline, telepon, zhang zi yi, cerpen, toto chan, bahagia, tasbih, membangkang, lupa, layang-layang, balkon, sunyi, mana Tuhan, nana, hijau, lari, peluk, kamu lagi, cantik, peluru, puisi, sendiri, cerita tak jadi, uang, kawin, sadeq hedayat, muak, dosa apa, ada lagi, banyak lagi, mana lagi, apa lagi, lagi …
diam,
diam,
diam!
Karet, Agustus 2004
isi kepala
kata-kata yang tak habis ditelan tenggat
cerita yang tak terbatas ruang di koran
sampah:
belati, perempuan, film, dostoyevsky, peluru, buku, cemburu, televisi, tak peduli, benci, tak lagi, iklan, deadline, telepon, zhang zi yi, cerpen, toto chan, bahagia, tasbih, membangkang, lupa, layang-layang, balkon, sunyi, mana Tuhan, nana, hijau, lari, peluk, kamu lagi, cantik, peluru, puisi, sendiri, cerita tak jadi, uang, kawin, sadeq hedayat, muak, dosa apa, ada lagi, banyak lagi, mana lagi, apa lagi, lagi …
diam,
diam,
diam!
Karet, Agustus 2004
Tuesday, August 10, 2004
Pada
pada riuh, aku mencoba mendengarmu
mencarimu
pada kaca jendela yang aku tatap,
tak juga kau ada
pada diam, suaramu hilang
pada remang, cahayamu padam
pada daun-daun yang beterbangan,
kabarmu tak juga terbawa
kau, mungkin pada gemericik air gunung
pada kata-kata di buku
pada masa lalu
pada nasehat orang tua
pada petuah agama
atau tertinggal di kitab suci
mungkin, pada sebutir peluru
Velbak, Agustus 2004
pada riuh, aku mencoba mendengarmu
mencarimu
pada kaca jendela yang aku tatap,
tak juga kau ada
pada diam, suaramu hilang
pada remang, cahayamu padam
pada daun-daun yang beterbangan,
kabarmu tak juga terbawa
kau, mungkin pada gemericik air gunung
pada kata-kata di buku
pada masa lalu
pada nasehat orang tua
pada petuah agama
atau tertinggal di kitab suci
mungkin, pada sebutir peluru
Velbak, Agustus 2004
Tuesday, July 13, 2004
Kalah Lagi
ini dunia tunggang langgang
dengan waktu yang terus menggulung
yang membuatku kewalahan mengikutinya
seperti hidup, yang terpampang
pada selembar kabar
pada sesayup bisikan
cerita keriangan, dan bahagia
lalu aku berpikir
mengukur hidup dengan setengah mata gelap
dan cemburu
hidupku, jauh dari semua itu
tapi aku masih berjalan
mampu
Karet, Juli 2004
ini dunia tunggang langgang
dengan waktu yang terus menggulung
yang membuatku kewalahan mengikutinya
seperti hidup, yang terpampang
pada selembar kabar
pada sesayup bisikan
cerita keriangan, dan bahagia
lalu aku berpikir
mengukur hidup dengan setengah mata gelap
dan cemburu
hidupku, jauh dari semua itu
tapi aku masih berjalan
mampu
Karet, Juli 2004
Monday, May 31, 2004
Wednesday, March 17, 2004
Sisa Semalam
sepi menjebakku malam itu
begitu kuasa melumat
hingga tak sejengkalpun aku bisa mengelak
maka aku berlindung dalam pelukanmu
membenamkan wajahku
kemudian datang bimbang darimu:
tak malukah kau
ada nama suci di balik wajahmu
aku diam
menimbun wajah dengan pipimu
bersembunyi,
dari malaikat yang mengintip dari balik punggung
dengan sebuah buku kecil di tangan
lembaran catatan tentangku
lalu satu kecupan
setelah itu malu
Karet, Maret 2004
sepi menjebakku malam itu
begitu kuasa melumat
hingga tak sejengkalpun aku bisa mengelak
maka aku berlindung dalam pelukanmu
membenamkan wajahku
kemudian datang bimbang darimu:
tak malukah kau
ada nama suci di balik wajahmu
aku diam
menimbun wajah dengan pipimu
bersembunyi,
dari malaikat yang mengintip dari balik punggung
dengan sebuah buku kecil di tangan
lembaran catatan tentangku
lalu satu kecupan
setelah itu malu
Karet, Maret 2004
Subscribe to:
Posts (Atom)