Sunday, October 10, 2004

Dalam Tenda

puisiku irama sepi
selingan ketukan air hujan
aroma harum basah sisa
pembunuh rindu hampa

kau tak ada

Cidahu, Oktober 2004

Monday, September 06, 2004

Pengemis

seorang lusuh
mengiba
kepada
setiap orang
yang melintasinya
di trotoar

sebilah pisau di tangan

tolong, tuan
bantu saya
mengeluarkan kata-kata
dari kepala

Karet, September 2004

Friday, September 03, 2004

Dilarang Bermain

perhatian!

dilarang bermain
dilarang tertawa
dilarang bahagia

permainan adalah kudeta
tawa adalah subversi
bahagia adalah bahaya laten

dan kau, adalah seorang pembangkang

Velbak, September 2004

Sunday, August 15, 2004

Berita

satu kalimat ini, datang dari rasa benci
sebab luang yang tak lagi ada
tercerabut waktu yang menekan
terjemahan ungkapan tanpa makna
dari orang-orang yang seharusnya tak didengarkan

kau menulisnya hingga jauh dari bahagia
bahkan lupa kata indah itu
membuat kata berjarak dari jiwa
sebab terpaksa

tahukah kau,
saat kata tak lagi berasa
kau berhak membangkang

Karet, Agustus 2004

Wednesday, August 11, 2004

Lawan Saja

lawan malu dengan acuh
lawan takut dengan sembunyi
lawan sepi dengan mati
mana peduli

Karet, Agustus 2004
27 Juli

layaknya mereka, kami pun berkabung
tidak di jalan, tapi di sebuah kamar

sebuah peringatan
parade umpatan sepenuh hati
terdengar lantang sebatas ruang
ironi musiman
benci, tapi tak mau pergi
sayang, tapi tak kunjung tenang
putus asa berhenti suara
menolak dengan tulisan tak jadi
ini cerita ulang resah tak berkesudahan
tentang gaji, yang tak menghidupi

Velbak, Juli 2004
Tak Berhenti

isi kepala
kata-kata yang tak habis ditelan tenggat
cerita yang tak terbatas ruang di koran

sampah:
belati, perempuan, film, dostoyevsky, peluru, buku, cemburu, televisi, tak peduli, benci, tak lagi, iklan, deadline, telepon, zhang zi yi, cerpen, toto chan, bahagia, tasbih, membangkang, lupa, layang-layang, balkon, sunyi, mana Tuhan, nana, hijau, lari, peluk, kamu lagi, cantik, peluru, puisi, sendiri, cerita tak jadi, uang, kawin, sadeq hedayat, muak, dosa apa, ada lagi, banyak lagi, mana lagi, apa lagi, lagi …

diam,
diam,
diam!

Karet, Agustus 2004

Tuesday, August 10, 2004

Apa

sebuah titik
sebuah tembok
sebuah hampa
sebuah belati,
mungkin bisa mengakhiri

Velbak, Agustus 2004
Pada

pada riuh, aku mencoba mendengarmu
mencarimu
pada kaca jendela yang aku tatap,
tak juga kau ada
pada diam, suaramu hilang
pada remang, cahayamu padam
pada daun-daun yang beterbangan,
kabarmu tak juga terbawa

kau, mungkin pada gemericik air gunung
pada kata-kata di buku
pada masa lalu
pada nasehat orang tua
pada petuah agama
atau tertinggal di kitab suci
mungkin, pada sebutir peluru

Velbak, Agustus 2004

Tuesday, July 13, 2004

Kalah Lagi 

ini dunia tunggang langgang
dengan waktu yang terus menggulung
yang membuatku kewalahan mengikutinya
seperti hidup, yang terpampang
pada selembar kabar
pada sesayup bisikan
cerita keriangan, dan bahagia
lalu aku berpikir
mengukur hidup dengan setengah mata gelap
dan cemburu

hidupku, jauh dari semua itu
tapi aku masih berjalan
mampu

Karet, Juli 2004

Monday, May 31, 2004

Kepada Seorang Kawan

aku tidak menghisap asap sigaret,
tidak minum arak,
juga tidak bermain perempuan.

aku menyanyi.

Velbak, Mei 2004

Friday, March 19, 2004

Kampanye

pilih aku,
jika kau tak punya malu!

Velbak, Maret 2004

Wednesday, March 17, 2004

Sisa Semalam

sepi menjebakku malam itu
begitu kuasa melumat
hingga tak sejengkalpun aku bisa mengelak
maka aku berlindung dalam pelukanmu
membenamkan wajahku

kemudian datang bimbang darimu:
tak malukah kau
ada nama suci di balik wajahmu

aku diam
menimbun wajah dengan pipimu
bersembunyi,
dari malaikat yang mengintip dari balik punggung
dengan sebuah buku kecil di tangan
lembaran catatan tentangku

lalu satu kecupan
setelah itu malu

Karet, Maret 2004

Wednesday, March 10, 2004

Pulang Awal

aku kemasi barang
melipat koran, masukan tas
rapikan meja, matikan layar
telpon pacar, salami kawan
lalu melenggang pulang

tidak menulis berita hari ini
tak cukup ruang di koran
sebab termakan iklan

Velbak, Maret 2004

Saturday, March 06, 2004

Wulan Tanggal Pat Belas

wulan bunder
pasuryane resik
nganti katon belang coklat tuane
kaya tembong

lintang padhang ana sampinge
sarwa kerlap-kerlip
sajak pamer
ora kalingan langit ireng

ananging rasaku ..

Karet, Maret 2004

Wednesday, February 25, 2004

Bintang Satu

aku punya satu bintang
tapi awan terlalu kejam belakangan ini
harusnya aku memetiknya kemarin
aku simpan, lalu aku pajang di atap kamar
awan tak bakal ke kamarku
karena aku adalah penguasa di kamarku

Bintang Dua

aku bertemu bintangku
kebetulan awan sudi bersahabat malam ini
aku petik satu buatmu
sebagai ganti gagal janji
jadikannya hiasan, di doa tahun barumu nanti

Bintang Tiga

kau pasti sudah terlelap malam ini
maka, biar aku selipkan sepenggal doa ini
lewat celah pintu kamarmu
semoga indah mimpimu
dan bertabur bintangku

Karet, Februari 2004

Tuesday, February 03, 2004

Catatan Harian Seorang Wartawan

dari rumah ke kantor, dua ribu rupiah
dari kantor ke balai kota, dua ribu rupiah
dari balai kota ke tanah abang, seribu rupiah
dari tanah abang ke balai kota, seribu rupiah
dari balai kota ke kantor, dua ribu rupiah
dari kantor ke rumah, dua ribu rupiah
ingat, jangan pakai taksi!
tidak bakal diganti

Velbak, Februari 2004

Monday, January 26, 2004

Bahagia

kabarkan kepadaku tentang bahagia
yang padanya aku mencari
agar aku datang padanya
atau aku undang dia
andai dia sudi

tapi tak juga
jangankan bahagia
kau pun tak berkabar

Velbak, Januari 2004

Wednesday, December 31, 2003

Ersa

mungkin kini, doa-doa beterbangan menembus pintu surga
menambal dua lubang peluru, yang membuat kau berpisah dari kami
selanjutnya adalah perang kata-kata
dan peluru masih mengejar nyawa
lalu melupakan angka

ini bukan sisa nyawa terakhir
maka, aku menguburmu dengan dua kata:
hentikan perang!

Velbak, Desember 2003

Monday, December 15, 2003

Kosong
(untuk aku)



Pejambon, Desember 2003