Wednesday, February 25, 2004

Bintang Satu

aku punya satu bintang
tapi awan terlalu kejam belakangan ini
harusnya aku memetiknya kemarin
aku simpan, lalu aku pajang di atap kamar
awan tak bakal ke kamarku
karena aku adalah penguasa di kamarku

Bintang Dua

aku bertemu bintangku
kebetulan awan sudi bersahabat malam ini
aku petik satu buatmu
sebagai ganti gagal janji
jadikannya hiasan, di doa tahun barumu nanti

Bintang Tiga

kau pasti sudah terlelap malam ini
maka, biar aku selipkan sepenggal doa ini
lewat celah pintu kamarmu
semoga indah mimpimu
dan bertabur bintangku

Karet, Februari 2004

Tuesday, February 03, 2004

Catatan Harian Seorang Wartawan

dari rumah ke kantor, dua ribu rupiah
dari kantor ke balai kota, dua ribu rupiah
dari balai kota ke tanah abang, seribu rupiah
dari tanah abang ke balai kota, seribu rupiah
dari balai kota ke kantor, dua ribu rupiah
dari kantor ke rumah, dua ribu rupiah
ingat, jangan pakai taksi!
tidak bakal diganti

Velbak, Februari 2004

Monday, January 26, 2004

Bahagia

kabarkan kepadaku tentang bahagia
yang padanya aku mencari
agar aku datang padanya
atau aku undang dia
andai dia sudi

tapi tak juga
jangankan bahagia
kau pun tak berkabar

Velbak, Januari 2004

Wednesday, December 31, 2003

Ersa

mungkin kini, doa-doa beterbangan menembus pintu surga
menambal dua lubang peluru, yang membuat kau berpisah dari kami
selanjutnya adalah perang kata-kata
dan peluru masih mengejar nyawa
lalu melupakan angka

ini bukan sisa nyawa terakhir
maka, aku menguburmu dengan dua kata:
hentikan perang!

Velbak, Desember 2003

Monday, December 15, 2003

Kosong
(untuk aku)



Pejambon, Desember 2003

Sunday, December 14, 2003

Tanpa Judul

aku membentur dinding
tapi tak nampak batasnya
aku terkurung di sudut
tapi tak jelas sikunya
aku terhimpit
tak tahu oleh apa

wahai kutukan yang sempurna
puaskah kau?

Velbak, Desember 2003

Wednesday, December 10, 2003

Pengumuman

jika
suatu ketika
suatu apa
suatu siapa
suatu dimana
suatu mengapa
suatu bagaimana
kau,
menemukan diriku
tolong,
kabari aku

Karet, Desember 2003

Thursday, December 04, 2003

Cukup

sebuah kata tanya menjadi penting bagiku
karena aku butuh
darinya, aku tahu jiwaku ada di benakmu
lalu aku menyimpannya sebagai mimpi

tapi aku tak menemukan kata tanya itu padamu
maka, aku meninggalkan jejak langkah ini
bersama rindu puji yang pula aku simpan
saat bulan menjadi teman berjalan

lalu, aku berkata, tidak!
tidak lagi!
dan aku berjalan
jauh, membiarkan angin meniup bekasku
juga sebuah bangku kosong di sebelahmu

aku mencari kata tanya itu
masih

aku pergi

Karet, November 2003

Monday, December 01, 2003

Mudik

iring-iringan ini seperti ular
tapi ada nyala mata di setiap ruasnya
bersembunyi diantara pepohonan
menari, meliuk berpanjang-panjang mempesona

aku menumpang di tengahnya
membawa rindu kampung
berharap tangan ibu
aku ingin menciumnya

hutan Subang, mudik Lebaran 2003

Saturday, November 29, 2003

Ied

kini, biar kita berbagi kemenangan ini
tentang kelahiran baru sebentuk hati yang suci layaknya bayi
dan putih layaknya salju

tapi, Tuhan ada dimana?

Karet, Lebaran 2003

Wednesday, October 29, 2003

Sayang Seribu Sayang
(in conversation with ina)

sayang seribu sayang
sayang seribu seribu sayang
sayang seribu itu sayang
seribu itu sayang
sayang seribu
seribu sayang
sayang ..

Malam di Velbak, Oktober 2003

Wednesday, October 22, 2003

Ramadhan

lalu, lupa itu pergi
berganti gairah mencari
mungkin, Tuhan ada disini

Velbak, Oktober 2003

Sunday, October 19, 2003

Kabar dari Angin

tiba-tiba angin datang kepadaku
dan berbisik,

namamu tidak pernah terlintas di kepalanya
tak pernah sejenak pun dia merenungkanmu
berhentilah berpikir tentangnya
lupakan!

apakah kau tidak pernah mendengarkanku
ketika kukirim aroma acuh ini beribu kali
tataplah langit, aku juga menitip pesan pada bintang
dan dia setia berkedip untukmu
atau kau pandangi hijau tetumbuhan
aku mengirim isyarat lewat lambaian daunnya

berhentilah!
aku tidak tega mendengar mereka menertawakanmu
kau badut bagi mereka
kaulah ledekan di tiap malam ocehan mereka
karena untaian mimpi yang kau kirim padanya

tidakkah kau percaya padaku

akulah angin
yang membawa nelayan menuju laut lepas
dan membawanya kembali ke pantai
akulah angin
yang menebar takut pada penduduk pantai
karena aku hebat menghempaskan mereka
tidakkah kau percaya.

...

tapi aku diam
aku ingin tidak peduli pada angin
karena aku ingin kau membantahnya
karena kau pernah mengaku, ada aku di benakmu
aku ingin kau tunjukkan padaku
bahwa angin bisa berbohong
karena aku ingat satu hal
angin tidak pernah berbohong padaku
sekalipun

Karet, Oktober 2003

Sunday, October 12, 2003

Peduli Itu
: buat D

peduli itu ada disini
dia datang dari bukan siapa-siapa
seorang asing
karena kau menggenggam erat milikmu
kukuh
"aku di jalanku. ini aku!" teriakmu

lalu kau biarkan peduli itu terbawa angin
tapi kau meratap butuh
kau kehilangannya di kosong jiwamu
"tapi aku mau di jalanku. ini aku!"
teriakanmu berangsur lirih

kini, peduli itu ada disini
dia meminta dua hal darimu
berinti satu, kembalilah ke hatimu
tapi dia datang dari bukan siapa-siapa
seorang asing

Karet, 16 Oktober 2003

Monday, October 06, 2003

Pagi Pak Tua

Aku melihatmu di pinggir jalan aku pulang. Terduduk lunglai, dengan dua bakul menemani. Istirahat Pak Tua?

Tapi hari masih pagi. Pukul sepuluh siang. Aku tak melihat peluh di wajahmu. Hanya guratan tua yang menghitung usia. Juga garis-garis putih yang menyeruak dari balik topimu.

Selembar uang ribuan di tanganmu. Mungkin jerih payahmu sampai siang ini. Mungkin pula ribuan pertamamu.

Kau belai layaknya seorang anak. Tanpa kata. Tanpa hirau lalu lalang orang. Hanya belaian sayang pada selembar uangmu.

Apa di benakmu Pak Tua, anak istrimukah. Atau kau bermimpi tentang mobil-mobil mewah dan rumah megah yang kau lewati.

Tapi hari masih pagi Pak Tua. Berteriaklah! Masih ada harapan dari bakul-bakulmu. Juga sabar yang kau punya, yang kau tunjukkan ketika kau tak hirau pada orang-orang. Ketika kau memilih diam di pinggir jalan itu.

Masih pagi Pak Tua. Mungkin masih ada lembaran ribuan disana. Mungkin lebih. Nanti kau bisa membelainya di rumah. Bersama anak dan istrimu.

Karet, Oktober 2003
Ragu

dua tahun sudah kau sandingkan hatimu di sebelahku
sebentuk hati yang tidak pernah pergi biarpun perih merintih

aku pernah ragu ketika kau tawarkan hatimu pertama kali dulu
hati itu terlalu indah untuk disandingkan di sebelahku
dan salahkah ragu hinggap diantara berkah mukjizat itu
tapi kau bilang, suara hatilah yang memilih

di suatu malam, hatimu begitu memukau akan ketulusan
sesuatu yang kian lama aku cari
dan hatimu menawarkannya untukku
tapi sekali lagi aku ragu akan hati yang indah itu
diantara tanya mengapaku, kau pun bilang, suara hatilah yang memilih

berlama-lama kau yakinkan perasaan hatimu
yang tidak pernah bosan menunggui aku
di belahan hatiku pun berikrar kaulah dewi ketulusan
dan kaulah maha keraguan

malam kini, kau masih sandingkan hatimu di sebelahku
masih saja indah dan memukau akan ketulusan
tapi ini malam terakhirmu setelah dua tahun itu
takkan ada lagi hati indah bersanding di sebelahku
takkan ada lagi ketulusan yang memukau dulu
tapi aku tidak ragu

September 2001

Friday, September 19, 2003

Kau, Sekali Lagi

kau mungkin bisa membuatku kecil
tapi kau tidak akan bisa membuatku mati
aku masih bisa berjalan
diiringi mentari dan bulan yang setia
aku tidak pernah ingin padam
akan sebuah keinginan yang kian menajam
...
ke sana
suatu tempat yang tak pernah kaupahami

26 Oktober 2001
Sungguh

seperti biasa, aku mengingatMU di saat seperti ini

lapar
lusuh
berserak
hambar
dan terbuang

aku mungkin datang padaMU saat aku lemah
melupakanMU saat aku kuat
aku takut KAU benci karena itu
aku pun takut saat KAU jauh
mendiamkanku tanpa peduliMU
mengerdilkanku dengan laknatMU
menenggelamkanku dengan murkaMU

diantara takut murkaMU
aku begitu ingin menengadah
memintaMU mendengarku
mengiyakan mauku
akan bahagia yang tercari
akan betapa sunyinya hidup tanpa telingaMU
akan betapa rindunya sejuk belaianMU

diantara takut laknatMU
aku mengiba
mengharapkan senyum bukti sayangMU

aku sangat ingin KAU pahami
sangat ingin KAU maklumi

KAU lah Maha Setia
KAU lah Maha ku Butuh
sungguh, aku memohon

26 Oktober 2001

Thursday, September 18, 2003

Berontak

aku hanya sedikit menggugat
tentang perasaan yang kau matikan disini

tidakkah kau inginkan sebuah perasaan
tentang adrenalin yang menyeruak ketika kau diantara mereka, para demonstran itu
tentang tangis yang memerahkan mata ketika kau diantara mereka, para pengungsi itu
tidakkah kau ingin?

tapi kau tertawa
dan kau bicara teknologi
yang buat robot mainanmu menangis
ah, itu muslihat kau agar teknologimu laku
darimana kau ciptakan perasaan mainanmu
sedang kau sendiri tak paham perasaan
kecuali memang kau bermimpi tentang perasaan

kau, masih saja kurung aku
tidak hanya perasaanku, bahkan mimpiku
tapi aku akan terus berontak
karena aku masih inginkan perasaan itu
dan aku takkan berbagi denganmu
tidak lagi

18 Oktober 2001
Seorang Tua

seorang tua
bersimpuh
bersandar

nafasnya terengah-engah

darah mengalir entah dari mana
basahi muka dan tutupi mata
baju putih lusuhnya tak kebal ceceran merah darah

siang itu, puluhan massa ada di depannya
dan di seberang sana kura-kura siap siaga

entah mula siapa kacau jadinya
dan gerobak minumnya tak cukup jadi pelindung
hingga sesuatu membuat darah menjadi topeng wajahnya

saat itu,
diantara nafas terengah-engah
diantara panik dan pasrah
dibalik celah sempit mata
satu tanya masih tersimpan di benaknya:
salahku apa?

16 Oktober 2001