Ied
kini, biar kita berbagi kemenangan ini
tentang kelahiran baru sebentuk hati yang suci layaknya bayi
dan putih layaknya salju
tapi, Tuhan ada dimana?
Karet, Lebaran 2003
Saturday, November 29, 2003
Wednesday, October 29, 2003
Wednesday, October 22, 2003
Sunday, October 19, 2003
Kabar dari Angin
tiba-tiba angin datang kepadaku
dan berbisik,
namamu tidak pernah terlintas di kepalanya
tak pernah sejenak pun dia merenungkanmu
berhentilah berpikir tentangnya
lupakan!
apakah kau tidak pernah mendengarkanku
ketika kukirim aroma acuh ini beribu kali
tataplah langit, aku juga menitip pesan pada bintang
dan dia setia berkedip untukmu
atau kau pandangi hijau tetumbuhan
aku mengirim isyarat lewat lambaian daunnya
berhentilah!
aku tidak tega mendengar mereka menertawakanmu
kau badut bagi mereka
kaulah ledekan di tiap malam ocehan mereka
karena untaian mimpi yang kau kirim padanya
tidakkah kau percaya padaku
akulah angin
yang membawa nelayan menuju laut lepas
dan membawanya kembali ke pantai
akulah angin
yang menebar takut pada penduduk pantai
karena aku hebat menghempaskan mereka
tidakkah kau percaya.
...
tapi aku diam
aku ingin tidak peduli pada angin
karena aku ingin kau membantahnya
karena kau pernah mengaku, ada aku di benakmu
aku ingin kau tunjukkan padaku
bahwa angin bisa berbohong
karena aku ingat satu hal
angin tidak pernah berbohong padaku
sekalipun
Karet, Oktober 2003
tiba-tiba angin datang kepadaku
dan berbisik,
namamu tidak pernah terlintas di kepalanya
tak pernah sejenak pun dia merenungkanmu
berhentilah berpikir tentangnya
lupakan!
apakah kau tidak pernah mendengarkanku
ketika kukirim aroma acuh ini beribu kali
tataplah langit, aku juga menitip pesan pada bintang
dan dia setia berkedip untukmu
atau kau pandangi hijau tetumbuhan
aku mengirim isyarat lewat lambaian daunnya
berhentilah!
aku tidak tega mendengar mereka menertawakanmu
kau badut bagi mereka
kaulah ledekan di tiap malam ocehan mereka
karena untaian mimpi yang kau kirim padanya
tidakkah kau percaya padaku
akulah angin
yang membawa nelayan menuju laut lepas
dan membawanya kembali ke pantai
akulah angin
yang menebar takut pada penduduk pantai
karena aku hebat menghempaskan mereka
tidakkah kau percaya.
...
tapi aku diam
aku ingin tidak peduli pada angin
karena aku ingin kau membantahnya
karena kau pernah mengaku, ada aku di benakmu
aku ingin kau tunjukkan padaku
bahwa angin bisa berbohong
karena aku ingat satu hal
angin tidak pernah berbohong padaku
sekalipun
Karet, Oktober 2003
Sunday, October 12, 2003
Peduli Itu
: buat D
peduli itu ada disini
dia datang dari bukan siapa-siapa
seorang asing
karena kau menggenggam erat milikmu
kukuh
"aku di jalanku. ini aku!" teriakmu
lalu kau biarkan peduli itu terbawa angin
tapi kau meratap butuh
kau kehilangannya di kosong jiwamu
"tapi aku mau di jalanku. ini aku!"
teriakanmu berangsur lirih
kini, peduli itu ada disini
dia meminta dua hal darimu
berinti satu, kembalilah ke hatimu
tapi dia datang dari bukan siapa-siapa
seorang asing
Karet, 16 Oktober 2003
: buat D
peduli itu ada disini
dia datang dari bukan siapa-siapa
seorang asing
karena kau menggenggam erat milikmu
kukuh
"aku di jalanku. ini aku!" teriakmu
lalu kau biarkan peduli itu terbawa angin
tapi kau meratap butuh
kau kehilangannya di kosong jiwamu
"tapi aku mau di jalanku. ini aku!"
teriakanmu berangsur lirih
kini, peduli itu ada disini
dia meminta dua hal darimu
berinti satu, kembalilah ke hatimu
tapi dia datang dari bukan siapa-siapa
seorang asing
Karet, 16 Oktober 2003
Monday, October 06, 2003
Pagi Pak Tua
Aku melihatmu di pinggir jalan aku pulang. Terduduk lunglai, dengan dua bakul menemani. Istirahat Pak Tua?
Tapi hari masih pagi. Pukul sepuluh siang. Aku tak melihat peluh di wajahmu. Hanya guratan tua yang menghitung usia. Juga garis-garis putih yang menyeruak dari balik topimu.
Selembar uang ribuan di tanganmu. Mungkin jerih payahmu sampai siang ini. Mungkin pula ribuan pertamamu.
Kau belai layaknya seorang anak. Tanpa kata. Tanpa hirau lalu lalang orang. Hanya belaian sayang pada selembar uangmu.
Apa di benakmu Pak Tua, anak istrimukah. Atau kau bermimpi tentang mobil-mobil mewah dan rumah megah yang kau lewati.
Tapi hari masih pagi Pak Tua. Berteriaklah! Masih ada harapan dari bakul-bakulmu. Juga sabar yang kau punya, yang kau tunjukkan ketika kau tak hirau pada orang-orang. Ketika kau memilih diam di pinggir jalan itu.
Masih pagi Pak Tua. Mungkin masih ada lembaran ribuan disana. Mungkin lebih. Nanti kau bisa membelainya di rumah. Bersama anak dan istrimu.
Karet, Oktober 2003
Aku melihatmu di pinggir jalan aku pulang. Terduduk lunglai, dengan dua bakul menemani. Istirahat Pak Tua?
Tapi hari masih pagi. Pukul sepuluh siang. Aku tak melihat peluh di wajahmu. Hanya guratan tua yang menghitung usia. Juga garis-garis putih yang menyeruak dari balik topimu.
Selembar uang ribuan di tanganmu. Mungkin jerih payahmu sampai siang ini. Mungkin pula ribuan pertamamu.
Kau belai layaknya seorang anak. Tanpa kata. Tanpa hirau lalu lalang orang. Hanya belaian sayang pada selembar uangmu.
Apa di benakmu Pak Tua, anak istrimukah. Atau kau bermimpi tentang mobil-mobil mewah dan rumah megah yang kau lewati.
Tapi hari masih pagi Pak Tua. Berteriaklah! Masih ada harapan dari bakul-bakulmu. Juga sabar yang kau punya, yang kau tunjukkan ketika kau tak hirau pada orang-orang. Ketika kau memilih diam di pinggir jalan itu.
Masih pagi Pak Tua. Mungkin masih ada lembaran ribuan disana. Mungkin lebih. Nanti kau bisa membelainya di rumah. Bersama anak dan istrimu.
Karet, Oktober 2003
Ragu
dua tahun sudah kau sandingkan hatimu di sebelahku
sebentuk hati yang tidak pernah pergi biarpun perih merintih
aku pernah ragu ketika kau tawarkan hatimu pertama kali dulu
hati itu terlalu indah untuk disandingkan di sebelahku
dan salahkah ragu hinggap diantara berkah mukjizat itu
tapi kau bilang, suara hatilah yang memilih
di suatu malam, hatimu begitu memukau akan ketulusan
sesuatu yang kian lama aku cari
dan hatimu menawarkannya untukku
tapi sekali lagi aku ragu akan hati yang indah itu
diantara tanya mengapaku, kau pun bilang, suara hatilah yang memilih
berlama-lama kau yakinkan perasaan hatimu
yang tidak pernah bosan menunggui aku
di belahan hatiku pun berikrar kaulah dewi ketulusan
dan kaulah maha keraguan
malam kini, kau masih sandingkan hatimu di sebelahku
masih saja indah dan memukau akan ketulusan
tapi ini malam terakhirmu setelah dua tahun itu
takkan ada lagi hati indah bersanding di sebelahku
takkan ada lagi ketulusan yang memukau dulu
tapi aku tidak ragu
September 2001
dua tahun sudah kau sandingkan hatimu di sebelahku
sebentuk hati yang tidak pernah pergi biarpun perih merintih
aku pernah ragu ketika kau tawarkan hatimu pertama kali dulu
hati itu terlalu indah untuk disandingkan di sebelahku
dan salahkah ragu hinggap diantara berkah mukjizat itu
tapi kau bilang, suara hatilah yang memilih
di suatu malam, hatimu begitu memukau akan ketulusan
sesuatu yang kian lama aku cari
dan hatimu menawarkannya untukku
tapi sekali lagi aku ragu akan hati yang indah itu
diantara tanya mengapaku, kau pun bilang, suara hatilah yang memilih
berlama-lama kau yakinkan perasaan hatimu
yang tidak pernah bosan menunggui aku
di belahan hatiku pun berikrar kaulah dewi ketulusan
dan kaulah maha keraguan
malam kini, kau masih sandingkan hatimu di sebelahku
masih saja indah dan memukau akan ketulusan
tapi ini malam terakhirmu setelah dua tahun itu
takkan ada lagi hati indah bersanding di sebelahku
takkan ada lagi ketulusan yang memukau dulu
tapi aku tidak ragu
September 2001
Friday, September 19, 2003
Sungguh
seperti biasa, aku mengingatMU di saat seperti ini
lapar
lusuh
berserak
hambar
dan terbuang
aku mungkin datang padaMU saat aku lemah
melupakanMU saat aku kuat
aku takut KAU benci karena itu
aku pun takut saat KAU jauh
mendiamkanku tanpa peduliMU
mengerdilkanku dengan laknatMU
menenggelamkanku dengan murkaMU
diantara takut murkaMU
aku begitu ingin menengadah
memintaMU mendengarku
mengiyakan mauku
akan bahagia yang tercari
akan betapa sunyinya hidup tanpa telingaMU
akan betapa rindunya sejuk belaianMU
diantara takut laknatMU
aku mengiba
mengharapkan senyum bukti sayangMU
aku sangat ingin KAU pahami
sangat ingin KAU maklumi
KAU lah Maha Setia
KAU lah Maha ku Butuh
sungguh, aku memohon
26 Oktober 2001
seperti biasa, aku mengingatMU di saat seperti ini
lapar
lusuh
berserak
hambar
dan terbuang
aku mungkin datang padaMU saat aku lemah
melupakanMU saat aku kuat
aku takut KAU benci karena itu
aku pun takut saat KAU jauh
mendiamkanku tanpa peduliMU
mengerdilkanku dengan laknatMU
menenggelamkanku dengan murkaMU
diantara takut murkaMU
aku begitu ingin menengadah
memintaMU mendengarku
mengiyakan mauku
akan bahagia yang tercari
akan betapa sunyinya hidup tanpa telingaMU
akan betapa rindunya sejuk belaianMU
diantara takut laknatMU
aku mengiba
mengharapkan senyum bukti sayangMU
aku sangat ingin KAU pahami
sangat ingin KAU maklumi
KAU lah Maha Setia
KAU lah Maha ku Butuh
sungguh, aku memohon
26 Oktober 2001
Thursday, September 18, 2003
Berontak
aku hanya sedikit menggugat
tentang perasaan yang kau matikan disini
tidakkah kau inginkan sebuah perasaan
tentang adrenalin yang menyeruak ketika kau diantara mereka, para demonstran itu
tentang tangis yang memerahkan mata ketika kau diantara mereka, para pengungsi itu
tidakkah kau ingin?
tapi kau tertawa
dan kau bicara teknologi
yang buat robot mainanmu menangis
ah, itu muslihat kau agar teknologimu laku
darimana kau ciptakan perasaan mainanmu
sedang kau sendiri tak paham perasaan
kecuali memang kau bermimpi tentang perasaan
kau, masih saja kurung aku
tidak hanya perasaanku, bahkan mimpiku
tapi aku akan terus berontak
karena aku masih inginkan perasaan itu
dan aku takkan berbagi denganmu
tidak lagi
18 Oktober 2001
aku hanya sedikit menggugat
tentang perasaan yang kau matikan disini
tidakkah kau inginkan sebuah perasaan
tentang adrenalin yang menyeruak ketika kau diantara mereka, para demonstran itu
tentang tangis yang memerahkan mata ketika kau diantara mereka, para pengungsi itu
tidakkah kau ingin?
tapi kau tertawa
dan kau bicara teknologi
yang buat robot mainanmu menangis
ah, itu muslihat kau agar teknologimu laku
darimana kau ciptakan perasaan mainanmu
sedang kau sendiri tak paham perasaan
kecuali memang kau bermimpi tentang perasaan
kau, masih saja kurung aku
tidak hanya perasaanku, bahkan mimpiku
tapi aku akan terus berontak
karena aku masih inginkan perasaan itu
dan aku takkan berbagi denganmu
tidak lagi
18 Oktober 2001
Seorang Tua
seorang tua
bersimpuh
bersandar
nafasnya terengah-engah
darah mengalir entah dari mana
basahi muka dan tutupi mata
baju putih lusuhnya tak kebal ceceran merah darah
siang itu, puluhan massa ada di depannya
dan di seberang sana kura-kura siap siaga
entah mula siapa kacau jadinya
dan gerobak minumnya tak cukup jadi pelindung
hingga sesuatu membuat darah menjadi topeng wajahnya
saat itu,
diantara nafas terengah-engah
diantara panik dan pasrah
dibalik celah sempit mata
satu tanya masih tersimpan di benaknya:
salahku apa?
16 Oktober 2001
seorang tua
bersimpuh
bersandar
nafasnya terengah-engah
darah mengalir entah dari mana
basahi muka dan tutupi mata
baju putih lusuhnya tak kebal ceceran merah darah
siang itu, puluhan massa ada di depannya
dan di seberang sana kura-kura siap siaga
entah mula siapa kacau jadinya
dan gerobak minumnya tak cukup jadi pelindung
hingga sesuatu membuat darah menjadi topeng wajahnya
saat itu,
diantara nafas terengah-engah
diantara panik dan pasrah
dibalik celah sempit mata
satu tanya masih tersimpan di benaknya:
salahku apa?
16 Oktober 2001
Saturday, September 13, 2003
Dimana
dimana angin
yang berhembus semilir menyibak sepiku
dimana burung
yang berkicau meriahkan sunyiku
dimana embun
yang kunanti menetes membasahi dataran keringku
harusnya bangunan-bangunan tinggi yang menghimpit itu bicara padaku
bukankah engkau ada untuk melindungi aku
harusnya pula kalian yang ada di sebelahku menjadi pendengarku
bukankah kalian ada di dekatku
tetapi,
engkau dan kalian hanyalah pengurungku
yang membiarkanku diam tak berasa dan menahan nafas
yang membiarkanku mendekam dalam penjara hingar bingar tanpa hati
yang membiarkanku menggeliat sendiri mencari suara dan kata
dan aku berharap pada angin
dan aku berharap pada burung
dan aku berharap pada embun
dimana angin
yang berhembus semilir menyibak sepiku
dimana burung
yang berkicau meriahkan sunyiku
dimana embun
yang kunanti menetes membasahi dataran keringku
dimana
30 September 2001
dimana angin
yang berhembus semilir menyibak sepiku
dimana burung
yang berkicau meriahkan sunyiku
dimana embun
yang kunanti menetes membasahi dataran keringku
harusnya bangunan-bangunan tinggi yang menghimpit itu bicara padaku
bukankah engkau ada untuk melindungi aku
harusnya pula kalian yang ada di sebelahku menjadi pendengarku
bukankah kalian ada di dekatku
tetapi,
engkau dan kalian hanyalah pengurungku
yang membiarkanku diam tak berasa dan menahan nafas
yang membiarkanku mendekam dalam penjara hingar bingar tanpa hati
yang membiarkanku menggeliat sendiri mencari suara dan kata
dan aku berharap pada angin
dan aku berharap pada burung
dan aku berharap pada embun
dimana angin
yang berhembus semilir menyibak sepiku
dimana burung
yang berkicau meriahkan sunyiku
dimana embun
yang kunanti menetes membasahi dataran keringku
dimana
30 September 2001
Antara Debu dan Batu
ketika itu, kami adalah debu
yang lepas, tak berberat, ringan tanpa daya
terombang ambing, tersaput angin tanpa lekatan sesuatupun
ketika itu nanti, kami adalah batu
yang tegar, keras tak terpindahkan
meskipun banjir dan lava mengikis menggulingkan
tetapi setidaknya, kami pernah kokoh berdiri
untuk tidak mudah digerus dan terabaikan
ketika itu nanti, kami bukanlah mimpi
karena batu adalah nyata
karena apalah arti sebutir debu
Oktober 2000
ketika itu, kami adalah debu
yang lepas, tak berberat, ringan tanpa daya
terombang ambing, tersaput angin tanpa lekatan sesuatupun
ketika itu nanti, kami adalah batu
yang tegar, keras tak terpindahkan
meskipun banjir dan lava mengikis menggulingkan
tetapi setidaknya, kami pernah kokoh berdiri
untuk tidak mudah digerus dan terabaikan
ketika itu nanti, kami bukanlah mimpi
karena batu adalah nyata
karena apalah arti sebutir debu
Oktober 2000
Subscribe to:
Posts (Atom)