Friday, March 19, 2004

Kampanye

pilih aku,
jika kau tak punya malu!

Velbak, Maret 2004

Wednesday, March 17, 2004

Sisa Semalam

sepi menjebakku malam itu
begitu kuasa melumat
hingga tak sejengkalpun aku bisa mengelak
maka aku berlindung dalam pelukanmu
membenamkan wajahku

kemudian datang bimbang darimu:
tak malukah kau
ada nama suci di balik wajahmu

aku diam
menimbun wajah dengan pipimu
bersembunyi,
dari malaikat yang mengintip dari balik punggung
dengan sebuah buku kecil di tangan
lembaran catatan tentangku

lalu satu kecupan
setelah itu malu

Karet, Maret 2004

Wednesday, March 10, 2004

Pulang Awal

aku kemasi barang
melipat koran, masukan tas
rapikan meja, matikan layar
telpon pacar, salami kawan
lalu melenggang pulang

tidak menulis berita hari ini
tak cukup ruang di koran
sebab termakan iklan

Velbak, Maret 2004

Saturday, March 06, 2004

Wulan Tanggal Pat Belas

wulan bunder
pasuryane resik
nganti katon belang coklat tuane
kaya tembong

lintang padhang ana sampinge
sarwa kerlap-kerlip
sajak pamer
ora kalingan langit ireng

ananging rasaku ..

Karet, Maret 2004

Wednesday, February 25, 2004

Bintang Satu

aku punya satu bintang
tapi awan terlalu kejam belakangan ini
harusnya aku memetiknya kemarin
aku simpan, lalu aku pajang di atap kamar
awan tak bakal ke kamarku
karena aku adalah penguasa di kamarku

Bintang Dua

aku bertemu bintangku
kebetulan awan sudi bersahabat malam ini
aku petik satu buatmu
sebagai ganti gagal janji
jadikannya hiasan, di doa tahun barumu nanti

Bintang Tiga

kau pasti sudah terlelap malam ini
maka, biar aku selipkan sepenggal doa ini
lewat celah pintu kamarmu
semoga indah mimpimu
dan bertabur bintangku

Karet, Februari 2004

Tuesday, February 03, 2004

Catatan Harian Seorang Wartawan

dari rumah ke kantor, dua ribu rupiah
dari kantor ke balai kota, dua ribu rupiah
dari balai kota ke tanah abang, seribu rupiah
dari tanah abang ke balai kota, seribu rupiah
dari balai kota ke kantor, dua ribu rupiah
dari kantor ke rumah, dua ribu rupiah
ingat, jangan pakai taksi!
tidak bakal diganti

Velbak, Februari 2004

Monday, January 26, 2004

Bahagia

kabarkan kepadaku tentang bahagia
yang padanya aku mencari
agar aku datang padanya
atau aku undang dia
andai dia sudi

tapi tak juga
jangankan bahagia
kau pun tak berkabar

Velbak, Januari 2004

Wednesday, December 31, 2003

Ersa

mungkin kini, doa-doa beterbangan menembus pintu surga
menambal dua lubang peluru, yang membuat kau berpisah dari kami
selanjutnya adalah perang kata-kata
dan peluru masih mengejar nyawa
lalu melupakan angka

ini bukan sisa nyawa terakhir
maka, aku menguburmu dengan dua kata:
hentikan perang!

Velbak, Desember 2003

Monday, December 15, 2003

Kosong
(untuk aku)



Pejambon, Desember 2003

Sunday, December 14, 2003

Tanpa Judul

aku membentur dinding
tapi tak nampak batasnya
aku terkurung di sudut
tapi tak jelas sikunya
aku terhimpit
tak tahu oleh apa

wahai kutukan yang sempurna
puaskah kau?

Velbak, Desember 2003

Wednesday, December 10, 2003

Pengumuman

jika
suatu ketika
suatu apa
suatu siapa
suatu dimana
suatu mengapa
suatu bagaimana
kau,
menemukan diriku
tolong,
kabari aku

Karet, Desember 2003

Thursday, December 04, 2003

Cukup

sebuah kata tanya menjadi penting bagiku
karena aku butuh
darinya, aku tahu jiwaku ada di benakmu
lalu aku menyimpannya sebagai mimpi

tapi aku tak menemukan kata tanya itu padamu
maka, aku meninggalkan jejak langkah ini
bersama rindu puji yang pula aku simpan
saat bulan menjadi teman berjalan

lalu, aku berkata, tidak!
tidak lagi!
dan aku berjalan
jauh, membiarkan angin meniup bekasku
juga sebuah bangku kosong di sebelahmu

aku mencari kata tanya itu
masih

aku pergi

Karet, November 2003

Monday, December 01, 2003

Mudik

iring-iringan ini seperti ular
tapi ada nyala mata di setiap ruasnya
bersembunyi diantara pepohonan
menari, meliuk berpanjang-panjang mempesona

aku menumpang di tengahnya
membawa rindu kampung
berharap tangan ibu
aku ingin menciumnya

hutan Subang, mudik Lebaran 2003

Saturday, November 29, 2003

Ied

kini, biar kita berbagi kemenangan ini
tentang kelahiran baru sebentuk hati yang suci layaknya bayi
dan putih layaknya salju

tapi, Tuhan ada dimana?

Karet, Lebaran 2003

Wednesday, October 29, 2003

Sayang Seribu Sayang
(in conversation with ina)

sayang seribu sayang
sayang seribu seribu sayang
sayang seribu itu sayang
seribu itu sayang
sayang seribu
seribu sayang
sayang ..

Malam di Velbak, Oktober 2003

Wednesday, October 22, 2003

Ramadhan

lalu, lupa itu pergi
berganti gairah mencari
mungkin, Tuhan ada disini

Velbak, Oktober 2003

Sunday, October 19, 2003

Kabar dari Angin

tiba-tiba angin datang kepadaku
dan berbisik,

namamu tidak pernah terlintas di kepalanya
tak pernah sejenak pun dia merenungkanmu
berhentilah berpikir tentangnya
lupakan!

apakah kau tidak pernah mendengarkanku
ketika kukirim aroma acuh ini beribu kali
tataplah langit, aku juga menitip pesan pada bintang
dan dia setia berkedip untukmu
atau kau pandangi hijau tetumbuhan
aku mengirim isyarat lewat lambaian daunnya

berhentilah!
aku tidak tega mendengar mereka menertawakanmu
kau badut bagi mereka
kaulah ledekan di tiap malam ocehan mereka
karena untaian mimpi yang kau kirim padanya

tidakkah kau percaya padaku

akulah angin
yang membawa nelayan menuju laut lepas
dan membawanya kembali ke pantai
akulah angin
yang menebar takut pada penduduk pantai
karena aku hebat menghempaskan mereka
tidakkah kau percaya.

...

tapi aku diam
aku ingin tidak peduli pada angin
karena aku ingin kau membantahnya
karena kau pernah mengaku, ada aku di benakmu
aku ingin kau tunjukkan padaku
bahwa angin bisa berbohong
karena aku ingat satu hal
angin tidak pernah berbohong padaku
sekalipun

Karet, Oktober 2003

Sunday, October 12, 2003

Peduli Itu
: buat D

peduli itu ada disini
dia datang dari bukan siapa-siapa
seorang asing
karena kau menggenggam erat milikmu
kukuh
"aku di jalanku. ini aku!" teriakmu

lalu kau biarkan peduli itu terbawa angin
tapi kau meratap butuh
kau kehilangannya di kosong jiwamu
"tapi aku mau di jalanku. ini aku!"
teriakanmu berangsur lirih

kini, peduli itu ada disini
dia meminta dua hal darimu
berinti satu, kembalilah ke hatimu
tapi dia datang dari bukan siapa-siapa
seorang asing

Karet, 16 Oktober 2003

Monday, October 06, 2003

Pagi Pak Tua

Aku melihatmu di pinggir jalan aku pulang. Terduduk lunglai, dengan dua bakul menemani. Istirahat Pak Tua?

Tapi hari masih pagi. Pukul sepuluh siang. Aku tak melihat peluh di wajahmu. Hanya guratan tua yang menghitung usia. Juga garis-garis putih yang menyeruak dari balik topimu.

Selembar uang ribuan di tanganmu. Mungkin jerih payahmu sampai siang ini. Mungkin pula ribuan pertamamu.

Kau belai layaknya seorang anak. Tanpa kata. Tanpa hirau lalu lalang orang. Hanya belaian sayang pada selembar uangmu.

Apa di benakmu Pak Tua, anak istrimukah. Atau kau bermimpi tentang mobil-mobil mewah dan rumah megah yang kau lewati.

Tapi hari masih pagi Pak Tua. Berteriaklah! Masih ada harapan dari bakul-bakulmu. Juga sabar yang kau punya, yang kau tunjukkan ketika kau tak hirau pada orang-orang. Ketika kau memilih diam di pinggir jalan itu.

Masih pagi Pak Tua. Mungkin masih ada lembaran ribuan disana. Mungkin lebih. Nanti kau bisa membelainya di rumah. Bersama anak dan istrimu.

Karet, Oktober 2003
Ragu

dua tahun sudah kau sandingkan hatimu di sebelahku
sebentuk hati yang tidak pernah pergi biarpun perih merintih

aku pernah ragu ketika kau tawarkan hatimu pertama kali dulu
hati itu terlalu indah untuk disandingkan di sebelahku
dan salahkah ragu hinggap diantara berkah mukjizat itu
tapi kau bilang, suara hatilah yang memilih

di suatu malam, hatimu begitu memukau akan ketulusan
sesuatu yang kian lama aku cari
dan hatimu menawarkannya untukku
tapi sekali lagi aku ragu akan hati yang indah itu
diantara tanya mengapaku, kau pun bilang, suara hatilah yang memilih

berlama-lama kau yakinkan perasaan hatimu
yang tidak pernah bosan menunggui aku
di belahan hatiku pun berikrar kaulah dewi ketulusan
dan kaulah maha keraguan

malam kini, kau masih sandingkan hatimu di sebelahku
masih saja indah dan memukau akan ketulusan
tapi ini malam terakhirmu setelah dua tahun itu
takkan ada lagi hati indah bersanding di sebelahku
takkan ada lagi ketulusan yang memukau dulu
tapi aku tidak ragu

September 2001