Ersa
mungkin kini, doa-doa beterbangan menembus pintu surga
menambal dua lubang peluru, yang membuat kau berpisah dari kami
selanjutnya adalah perang kata-kata
dan peluru masih mengejar nyawa
lalu melupakan angka
ini bukan sisa nyawa terakhir
maka, aku menguburmu dengan dua kata:
hentikan perang!
Velbak, Desember 2003
Kosong
(untuk aku)
Pejambon, Desember 2003
Tanpa Judul
aku membentur dinding
tapi tak nampak batasnya
aku terkurung di sudut
tapi tak jelas sikunya
aku terhimpit
tak tahu oleh apa
wahai kutukan yang sempurna
puaskah kau?
Velbak, Desember 2003
Pengumuman
jika
suatu ketika
suatu apa
suatu siapa
suatu dimana
suatu mengapa
suatu bagaimana
kau,
menemukan diriku
tolong,
kabari aku
Karet, Desember 2003
Cukup
sebuah kata tanya menjadi penting bagiku
karena aku butuh
darinya, aku tahu jiwaku ada di benakmu
lalu aku menyimpannya sebagai mimpi
tapi aku tak menemukan kata tanya itu padamu
maka, aku meninggalkan jejak langkah ini
bersama rindu puji yang pula aku simpan
saat bulan menjadi teman berjalan
lalu, aku berkata, tidak!
tidak lagi!
dan aku berjalan
jauh, membiarkan angin meniup bekasku
juga sebuah bangku kosong di sebelahmu
aku mencari kata tanya itu
masih
aku pergi
Karet, November 2003
Mudik
iring-iringan ini seperti ular
tapi ada nyala mata di setiap ruasnya
bersembunyi diantara pepohonan
menari, meliuk berpanjang-panjang mempesona
aku menumpang di tengahnya
membawa rindu kampung
berharap tangan ibu
aku ingin menciumnya
hutan Subang, mudik Lebaran 2003